Jatuh Cinta pada Indonesia

Jatuh Cinta pada Indonesia

Memangnya, perlu merantau jauh dari tanah air dulu baru bisa mengerti seribu hal dari Indonesia yang selama ini hanya kita terima dengan cuma-cuma?

Saat bersekolah selama satu tahun di sebuah universitas di Jepang, saya berangkat dengan keyakinan bahwa saya akan belajar banyak tentang Jepang dan kebudayaannya. Tidak sabar ingin membuktikan apakah kehidupan sekolah di Jepang sama dengan yang digambarkan Hana yori dango, penasaran dengan distrik fashion Harajuku dan Shibuya, setengah mati ingin merasakan tradisi hanami(makan dan minum sambil melihat bunga sakura) dan ingin mengunjungi kota-kota bersejarah layaknya Hiroshima, Nagasaki dan lain sebagainya. Melihat ke belakang sekarang, betapa sederhana, naif dan egoisnya saya saat itu. Karena ternyata, justru dengan menjadi anak rantau di negeri orang, saya belajar lebih banyak tentang negeri sendiri.

Di kampus, saya bertemu dengan banyak mahasiswa pertukaran pelajar lainnya dari berbagai negara di dunia dan tentu saja, dengan para mahasiswa Jepang. Ada yang merasa familiar dengan nama Indonesia, beberapa mengaitkannya dengan Pulau Dewata, tapi tidak sedikit yang sulit percaya bahwa Bali adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Reaksi pertama saya adalah terkejut, karena tidak menyangka bahwa banyak sekali orang yang tidak tahu-menahu tentang Indonesia.

Saat itu saya berdiri di sana, di depan rekan-rekan saya dan menceritakan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan di Indonesia. Seorang teman dari Finlandia memperhatikan pin Garuda emas yang saya sematkan di tas saya. Dan ia bertanya, apakah itu adalah coat of arm negara Indonesia. Pertanyaannya membuka diskusi panjang tentang negara kami masing-masing. Saya mencoba menjelaskan tentang simbolisasi Garuda, makna 17 helai sayap, 8 bulu ekor dan 45 bulu dada yang dimilikinya. Juga perisai Pancasila dan pita bertuliskan bhinneka tunggal ika yang dicengkeramnya. Si pria Finland kemudian berkata bahwa ia tidak tahu Indonesia ternyata adalah negara yang dibangun di atas filosofi yang sangat kuat, dan bahwa rupa-rupanya para pendiri bangsa memiliki visi yang sangat besar untuk negeri ini.

Rekan-rekan saya hari itu mungkin kembali ke asrama mereka dengan sedikit tambahan informasi tentang Indonesia, namun saya kembali dengan suatu percikan api yang memenuhi relung hati: saya adalah orang Indonesia dan saya ingin Indonesia dikenal lebih luas lagi sebagai negara yang kaya budaya dan penting untuk dikenal. Maka, saya kembali ke asrama dan melakukan riset besar-besaran melalui internet. Mengingat kembali sejarah, mencari tahu lagi tentang berbagai upacara adat dan kesenian Indonesia dan fakta-fakta yang sebelumnya terlewat begitu saja dari ingatan dan keseharian saya selama masih berada di Tanah Air. Lalu saya merasa lucu. Sebagai anak-anak Indonesia, kita adalah orang-orang yang semestinya paling mengerti tentang kebudayaan Indonesia. Kita hidup di dalamnya selama bertahun-tahun, kebudayaan itu adalah kita, dalam keseharian  kita, dalam cara kita menghayati apa yang kita miliki sebagai Bangsa Indonesia. Namun, saat merantau tiba-tiba saya diserang oleh kesadaran bahwa ternyata sebelumnya saya pun bukanlah orang yang menghayati dan mengenal kebudayaan sendiri dengan segenap hati.

Bagaimana saya akan memperkenalkan Indonesia, jika saya sendiri tidak mengenalnya secara mendalam? Melalui berbagai presentasi, tugas dan interaksi saya dengan rekan-rekan dari mancanegara, saya akhirnya menemukan jalan untuk pertama kalinya menyadari penuh bahwa saya telah jatuh cinta pada bangsa Indonesia.

Saya jatuh cinta pada negara yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dalam wilayahnya. Saya jatuh cinta pada negara yang masing-masing pulaunya memiliki tarian, kisah dan legenda memesona, kepingan sejarah, ragam kepercayaan, sensasi makanan khas dan juga tradisi yang berbeda-beda. Saya jatuh cinta, pada negara yang berusaha merantai semua perbedaan itu dalam semangat persatuan. Saya jatuh cinta, pada negara yang memiliki kombinasi ragam keindahan alam, baik darat dan laut yang terindah di dunia. Saya jatuh cinta, pada negara yang masih jatuh bangun menata pemerintahannya.

Kemana saja saya selama 22 tahun ini? Apakah terlalu sibuk menggandrungi kebudayaan negara lain dalam era globalisasi? Apakah terlampau apatis untuk memperhatikan pertumbuhan negara sendiri? Apakah kelewat egois dengan terus mencemooh pemerintah tanpa merefleksi apa yang sudah saya lakukan untuk negara?

Dalam banyak kesempatan berpikir, saya bertanya-tanya apakah rasa nasionalisme dalam diri generasi muda Indonesia sekarang sudah menjadi terlalu tipis? Ada berapa banyak generasi Indonesia yang sama egoisnya dengan saya sebelum datang ke Jepang? Sebetulnya, saya merasa menyesal, tidak lebih cepat jatuh cinta pada Indonesia. Seharusnya, rasa nasionalisme sekuat ini sudah saya miliki sejak dulu dan tidak perlu menunggu merantau jauh-jauh untuk bisa menyadari betapa bangganya menjadi seorang anak Indonesia.

Cinta bangsa seharusnya ditumbuhkan dari pendidikan budaya dalam keluarga, di sekolah, dan masyarakat sejak usia dini. Saat saya menjadi siswa SMP bertahun-tahun silam di Jakarta, saya masih diwajibkan membaca karya sastra Indonesia. Sebut saja Layar Terkembang dan Anak Perawan di Sarang Penyamun karangan Sutan Takdir Alisjahbana. Namun dewasa ini, penanaman nilai-nilai budaya seperti itu telah semakin bergeser dan terlupakan. Padahal, hal ini penting dalam pembentukan karakter siswa yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Contoh lain, pemerintah Indonesia belakangan menyadari tentang pentingnya penanaman nasionalisme, dan meyakini bahwa penambahan porsi jam mata pelajaran Agama dan Pendidikan kewarganegaraan akan menjadi solusi yang baik. Sedangkan, pelajaran-pelajaran tersebut masih seringkali didominasi oleh tumpukan teori dan hafalan.

Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran pernah berkata, “Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.” Oleh karena itulah, rasa cinta tanah air tidak akan dimunculkan hanya dengan menghafal teori dan menambah porsi jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah-sekolah. Cinta tanah air tidak akan berakar jika generasi muda tidak dididik untuk mengenal kebudayaannya dari dekat.

Saya rindu, generasi muda akan terus-menerus jatuh cinta pada Indonesia. Saya rindu, perasaan cinta itu tumbuh seiring dengan pertumbuhan kami sebagai pribadi-pribadi Indonesia. Saya rindu, kami-kami ini akan dapat memperkenalkan Indonesia kepada dunia luas bahwa mereka akan merugi jika tidak mengenal Indonesia. Untuk itu saya rindu, pelajaran “kewarganegaraan” dan “budaya” adalah pelajaran yang menfasilitasi siswa untuk menggunakan inderanya demi meresapi budaya bangsa. Mumpung masih berada di bumi Indonesia, saya rindu generasi muda melihat, menyentuh, mencium, mendengar dan membaui budaya itu sendiri. Karena tempat mana lagi yang lebih tepat digunakan sebagai ajang eksplorasi budaya bangsa, kalau bukan di lahan bangsa itu sendiri?

Saat ini, saya berada dalam jalur pekerjaan yang memungkinkan saya memiliki akses pada pendidikan anak usia dini. Saya akan memulainya dari sini. Dari anak-anak muda ini, saya akan menularkan virus jatuh cinta pada tanah air. Dan saat mereka bertumbuh dewasa, saya berharap virus itu sudah merajalela di setiap nadi dan pembuluh darah mereka. Dan bahwa kami, anak-anak Indonesia, akan membawa virus itu kemanapun kami pergi.
***

Selain perjalanan pendakian ke Gunung Gede, salah satu highlight tahun lalu bagi saya adalah mengikuti Kemah Kepemimpinan yang diselenggarakan oleh Tempo Institute. Kemah Kepemimpinan yang merupakan bagian dari KEM (Kompetisi Esai Mahasiswa) itu mempertemukan 30 anak muda dari berbagai tempat di Indonesia untuk mendiskusikan ide tentang bagaimana menjadi Indonesia. Seleksi pertama dilakukan dengan meminta para kandidat untuk menuliskan sebuah esai. Esai di atas adalah esai yang saya tulis untuk KEM Menjadi Indonesia 2013.

KEM membuat saya belajar banyak hal, dan mendapatkan banyak teman baru, manusia-manusia yang memiliki idealisme masing-masing dan tidak ragu menyampaikannya dalam diskusi. Perbedaan jelas terlihat diantara kami, dan tidak sedikit yang berdiri di kutub-kutub ekstrim dari sebuah pandangan. KEM lalu mempertemukan kami-kami ini dan memfasilitasi sebuah think tank, membiarkan masing-masing orang berproses dan mengemukakan idenya, imajinya tentang sketsa Indonesia. Proses ini bagi saya terbilang baru, karena saya didorong untuk berpikir dan secara jujur mengemukakan sketsa saya sendiri, untuk pertama kalinya secara intens mempertanyakan pada diri sendiri, “bagimu, apa itu Indonesia?” dan “apa yang membuatmu mau menjadi Indonesia?”

Dalam KEM ini pula muncul sosok unik Rocky Gerung, seeorang yang langsung mengambil posisi pengusik, seorang penggoda seperti dalam cerita Adam dan Hawa. Singkatnya, ia mempertanyakan ideologi 30 anak muda ini. Menantang dan menuntut jawaban logis, apakah kami percaya pada Republik? Sungguhkah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sesuatu yang patut dipertahankan, tidakkah akan jauh lebih baik dan adil bila kita menjadi sebuah negara serikat? Pada kami yang meyakini Undang Undang Dasar 1945 dan pada kami yang sentimentil mengungkit kisah perjuangan para pejuang untuk mempersatukan negeri, pak Gerung bertanya, “Mengapa?” tidakkah ideologi kami tentang NKRI adalah ideologi yang “dipaksakan” melalui pelajaran Sejarah, melalui hal-hal yang kami telan mentah-mentah dari orang-orang dewasa di sekitar kami? Sesuatu yang menjadi bagian dari kami begitu saja, tanpa kami pertanyakan, tanpa kami hayati sebagai sebuah ideologi. Mengapa memaksakan negeri ini harus tetap menjadi suatu kesatuan? Tetap menjadi sebuah Republik Indonesia? Ia bahkan bertanya apa yang kami pahami dengan nasionalisme, sebuah pertanyaan mendasar yang ternyata telaah jawabannya jauh lebih dalam dari yang saya yakini selama ini.

Pak Gerung memang pengusik yang handal.

Kurang lebih seperti itu sepenggal nostalgia saya tentang KEM 6 bulan yang lalu. Kami diusik untuk merumuskan kembali “menjadi Indonesia”. Lalu, tanggal 30 Maret kemarin, rekan-rekan dari Tempo Institute beserta para alumni berangkat ke Bandung untuk memulai rangkaian kegiatan Menjadi Indonesia 2014. 
Saya duduk di depan komputer dan sebuah senyu menyungging begitu saja. Sudah dimulai lagi, ternyata. Rangkaian kegiatan yang saya harap akan tetap menjadi proses berpikir ulang bagi para anak bangsa, dalam perjuangan merealisasikan sketsa Indonesia. Menurut saya ini proses yang penting. Tahun ini pun, saya berharap KEM akan menjadi wadah dimana anak-anak muda Indonesia dari berbagai paham, idealisme dan sudut pandang akan berkumpul dan berlatih memahami perbedaan, toleransi, dan patriotisme.

Published by reylasano

she writes your stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: